Diduga Lewat Calo, PT. Jutarasa Akan Kembali Beroperasi di SBB

  • Whatsapp
banner 728x250

Piru, fajarmaluku.com- PT. Jutarasa rencananya akan kembali di buka. Perusahaan yang bergerak di industri Minyak Kayu Putih dan beroperasi sejak 2018 ini, sebelumnya pernah ditutup oleh mantan Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Almarhum M. Yasin Payapo lantaran tidak memberikan kontribusi bagi daerah.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, PT. Jutarasa akan kembali beroperasi, setelah adanya angin segar dari pemerintah daerah, dibawah kepemimpinan Bupati Timotius Akerina.

Ditutupnya operasional PT. Jutarasa, karena tidak sedikitpun memberikan kontribusi positif untuk dampak ekonomi daerah ini. Selain itu, ada beberapa indikasi yang melatarbelakangi ditutupnya perusahan ini, yakni.

  1. Beroperasi tanpa Dokumen Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL).
  2. Ijin Pemungutan Hasil Hutan (IPHH) Bukan Kayu yang digunakan, adalah milik perorangan, yang lahannya dikontrak oleh perusahan yang sudah beroperasi dalam skala industri.
    3.Pemasaran hasil produksi Minyak Kayu putih keluar wilayah SBB Tidak pernah menggunakan Label SBB.
    4.Pekerja Tetap hanya 10 orang sementara laporan Menejemen ke Pemodal bahwa, jumlah karyawan 123 orang.

Namun kini, perusahaan tersebut akan kembali beroperasi, setelah mendapat angin segar dari pemerintah daerah.

Dari beberapa sumber yang berhasil dimintai keterangan menyebutkan. Ada oknum-oknum yang memanfaatkan kedekatan dengan Bupati SBB, untuk menjadi calo guna memuluskan jurus tipu-tipu ala PT. Jutarasa.

Bahkan info yang kemudian disampaikan para calo kepada Bupati Timotius Akerina dan Pemodal, bahwa pekerja saat ini 160 orang dan gajinya dibayar full. Padahal, sejak aktifitas perusahan dihentikan oleh Almarhum Bupati Yasin Payapo, pekerja yang ada hanya 8 orang dan gajinya dibayar setengah dari gaji yang seharusnya.

Dengan kembali beroperasinya PT. Jutarasa, tentu saja menguntungkan para calo dan pihak perusahaan. Sementara daerah, kemungkinan akan kembali merugi, akibat tidak ada kontribusi untuk peningkatan PAD.

Selain itu, jika perusahaan yang berlokasi di dusun Kotania desa Ety kecamatan Seram Barat ini diijinkan beroperasi, maka akan berdampak kepada matinya Industri Kecil Menengah (IKM), yang bergerak di bidang yang sama, yang selama ini dibina oleh Pemda SBB.

Rusdin, salah satu pemilik ketel minyak kayu putih yang ditemui media ini mengatakan. Keberadaan PT. Jutarasa, cukup mempersulit dia serta pengusaha kecil lainnya.

Pasalnya, dari harga daun kayu putih saja, dirinya dan pengusaha lainnya sudah kewalahan.

“Sulit memang sejak adanya perusahan. Karena kita pengusaha kecil ini beli daun (kayu putih) harga 600 per kilo. Sedangkan perusahan ambil dengan 1000 sampai 1500 per kilo.” Ujar Rusdin.

Dikatakan, jika dirinya kadang tidak bisa memproduksi minyak kayu putih, karena tidak ada daun. Hal ini disebabkan, pemetik daun kayu putih lebih memilih menjual ke perusahan dengan harga lebih tinggi dari yang ditawarkan oleh IKM.

Dirinya mengaku, jika PT. Jutarasa kembali beroperasi, maka sudah dipastikan dirinya dan puluhan IKM lainnya akan gulung tikar.

“Jujur saja, jika perusahan itu kembali beroperasi, maka kami akan macet. Karena hampir semua lahan kayu putih itu, suda mereka kontrak dengan harga lebih tinggi dari kita.” Papar Rusdin.

Rusdin mengatakan, dirinya kini berharap pada Pemda SBB, agar ada kebijakan yang berpihak pada mereka, bukan kepada perusahan. Dirinya pun mengaku pasrah, jika pemerintah mengijinkan PT. Jutarasa kembali beroperasi.

“Kita hanya berharap pada pemerintah. Tapi kalau pemerintah mau kasi jalan perusahan, lebih baik kita mundur saja, karena untuk bersaing dengan perusahan, memang setengah mati.” Tandasnya.

Hasil penelusuran fajarmaluku.com, banyak ketel minyak kayu putih yang sudah tutup dan dibiarkan terbengkalai oleh pemiliknya. Mungkin imbas dari keberadaan PT. Jutarasa. (elo)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *