Kericuhan Warnai RDP Bahas Tambang Marmer

  • Whatsapp
banner 728x250

Piru, fajarmaluku.com- Kericuhan mewarnai Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung di gedung DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). RDP yang berakhir ricuh tersebut, membahas soal tambang marmer ini, melibatkan semua Komisi DPRD bersama Dinas PMD SBB dan Masyarakat desa Kasieh kecamatan Taniwel.

Rapat yang berlangsung di kantor DPRD Gunung malintang Piru pada, Rabu (25/11) itu dihadiri Oleh Perwakilan Tim Amdal kabupaten SBB, Penjabat dan Ketua BPD desa Kasieh, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat serta Tokoh Pemuda.

Pantauan media fajarmaluku.com, kericuhan terjadi sesaat setelah Abdul Rasyid Lisaholit selaku ketua DPRD mengetuk palu tanda berakhirnya rapat.

Merasa dirinya belum menyampaikan pendapat, seorang perwakilan masyarakat desa Kasie yang merupakan tokoh masyarakat sekaligus mantan Raja Kasieh merasa keberatan dan mengamuk.

Hal tersebut sontak membuat semua terkaget dan berusaha menenangkan bahkan adu argumen yang tidak bisa terkontrol sempat terjadi dan membuat sedikit ketegangan.

Usai terjadi kericuhan tersebut, fajarmaluku.com berusaha untuk mengkonfirmasi yang  bersangkutan untuk memintai keterangan namun dirinya sudah tidak berada ditempat.

Sementara itu, Abdul Rasyid Lisaholit saat dimintai keterangan oleh awak media terkait kejadian tersebut mengatakan selama rapat berlangsung, selaku pimpinan rapat dirinya telah memberikan ruang kepada semua orang untuk memberikan pendapat.

“Tadi kan kalian juga semua tahu bahwa kita berikan ruang untuk semua berbicara. Kami berikan kesempatan untuk semua berbicara. Namun ketika kami memberikan ruang beliau yang tadi ribut sampai terakhir pun tidak mengajungkan tangan untuk berbicara,” Jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahkan sesaat diakhir rapat yang bersangkutan mengangkat kedua tangan dengan membentuk huruf T yang biasa diartikan adalah syarat untuk selesai.

“Bahkanpun yang terakhir, beliau sendiri yang bikin ajukan tangan huruf T. Dan itu bagi kami disini, DPRD setiap ada kode tersebut, kalau tidak keluar dari ruangan, atau rapat dihentikan”. Jelasnya.

Dengan begitu menurutnya, tidak ada lagi yang berbicara maka rapat dihentikan.

Untuk diketahui, Rapat Dengar pendapat itu merupakan agenda DPRD dalam menyikapi surat pemberitahuan yang masuk kepada mereka.

Adapun surat tersebut berasal dari masyarakat yang tergabung dalam sebuah Forum yang dinamakan Forum Masyarakat Peduli Kasieh (FMPK) untuk meminta audiens kepada DPRD SBB terkait rencana pertambangan diwilayah desa Kasieh.

Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada rencana agenda lanjutan terkait pembahasan soal tambang marmer. (elo)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *