Pemkab Buat Pertemuan Cegah Covid-19 Masuk SBB

  • Whatsapp
banner 728x250

SBB, FajarMaluku.com- Dalam rangka mencegah masuknya Covid-19 (Corona) di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Pemerintah Daerah (Pemda) SBB menggelar pertemuan yang melibatkan para pejabat eselon II, III dan IV.

Pertemuan para pejabat lingkup Pemkab SBB ini, dipimpin langsung Bupati SBB Drs. M. Yasin Payapo, M.Pd, didampingi Sekda SBB Mansur Tuharea, SH, Assisten I Setda SBB, Kadis Kesehatan SBB dr. Yohanes Tapang, M.Kes dan Direktur RSUD Piru dr. Johan Frangky Selanno, bertempat di lantai 3 (tiga) kantor Bupati, Kamis (19/03).

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Kesehatan SBB di depan Bupati dan pejabat lainnya menyampaikan alur dan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Lanjutnya, yang pertama adalah, apabila orang datang dari daerah yang terjangkit, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Manado.

“Jika mereka datang maka, mereka harus melewati yang namanya thermal scanner. Kalau misalnya mereka itu diketemukan demam, batuk, pilek, maka mereka akan dipisahkan,” ujar Tapang.

Dikatakan, Petugas Kesehatan Pelabuhan (PPK), akan memeriksa mereka. Kalau ditemukan kriteria sebagai orang yang diduga menderita atau biasa dalam ilmu kedokteran namanya aspek terduga.

“Kalau di corona ini namanya ODP atau orang diduga. Setelah itu, diperiksa lagi dia masuk dalam kriteria maka dia akan dirujuk ke rumah sakit, dan dilakukan pemeriksaan rontgen foto. Dan setelah dinyatakan positif, maka dia diisolasikan.”

Sedangkan bagi orang yang negatif lanjutnya, begitu datang, diperiksa thermoscan negatif tetapi yang bersangkutan dari daerah terjangkit, maka ini diberikan kartu, yang namanya kartu kesehatan.

Kartu kesehatan tersebut tambah Kadis, mencatat riwayat perjalanan mereka. Kemudian nama, dimana tempat tinggalnya dimana sehingga, nanti dalam pemantauan apabila tiba-tiba dalam 14 hari ada muncul gejala. Maka, mereka harus segera ke fasilitas Kesehatan untuk ditangani lebih lanjuti.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Johan Selanno mengatakan, yang penting di sini ada riwayat kontak. Menurutnya, itu poin paling penting, terutama yang datang dari daerah-daerah endemis seperti Jakarta, Manado dan Surabaya.

“Tapi kalau sudah lewat masa inkubasi dua minggu kira-kira dia di rumah dan tidak ada gejala berarti bisa dikatakan bahwa orang ini tidak terinfeksi,” ujar Selanno.

Tambahnya, gejala awal yang paling berat itu biasanya sesak nafas, flu dan batuk, serta gatal-gatal di tenggorokan. Biasanya keempat mulai sesak, sebaiknya langsung ke fasilitas kesehatan.

“Untuk di rumah RSUD Piru sendiri kalau bapak ibu lewat di depan rumah sakit tapi pasang tenda itu sebagai skrining awal. Jadi pasien yang kamu curigai dia dalam kategori orang dalam pemantauan, kita langsung pisahkan di tenda, tidak gabung ke rumah sakit biasa dan ruang isolasi di belakang.” Tandas Selanno. (FM-01)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *