Tambang Nikel di Piru, Ditutup Dengan Dasi Adat

  • Whatsapp
banner 728x250

Piru, fajarmaluku.com- Kegiatan operasional di areal tambang nikel pegunungan Kobar desa Piru kecamatan Seram Barat, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), yang di kerjakan oleh PT. Manusela Prima Mining ditutup oleh masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat (AMA) Hatutelu Negeri Piru.

AMA Hatutelu menutup operasional tambang Nikel dengan segala aktivitas didalamnya, dengan melakukan unjuk rasa dan disertai dengan Sasi Adat di lokasi tambang tersebut, Selasa (20/10).

Usai ritual sasi adat berlangsung, Agustinus Latussia selaku koordinator AMA Hatutelu kepada wartawan mengatakan. Tujuan masyarakat adat melakukan sasi adat dan menutup kegiatan pertambangan dikarenakan, pihak PT. Manusela Prima Mining tidak menghargai masyarakat Piru.

“Aksi ini kita lakukan, karena kita selaku masyarakat adat yang punya wilayah petuanan dan hak Ulayat di areal tambang ini merasa tidak di hargai oleh pihak perusahan.” Ujar Latussia.

Dikatakan, sasi adat yang dilakukan adalah bagian dari bentuk kekecewaan masyarakat, akibat dari terlalu lama menunggu respon dari pihak perusahaan.

Kata dia, sejauh ini masyarakat telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan BPD Piru, namun hingga aksi ini dilakukan, tidak ada kepastian dari pihak PT. Manusela Prima Mining.

“Oleh karena itu, hari ini kita melakukan aksi, dengan tujuan pihak perusahaan bisa menghargai kami selaku pemilik hak ulayat di lokasi pertambangan ini,” tandas Latussia.

Lanjut dia, sejauh ini masyarakat sudah melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan. Bahkan sudah di fasilitas oleh Polres SBB namun belum ada titik terang, hingga akhirnya dilakukan sasi adat.

Menurut Latussia, warga tetap berterimakasih kepada PT. Manusela Prima Mining, karena dengan adanya kegiatan penambangan, masyarakat desa Piru bisa mengetahui jika di daerah petuan mereka, terkandung Nikel.

“Kita tetap inginkan operasional tambang ini tetap berjalan. Akan tetapi harus dibicarakan secara baik antara kedua belah pihak, sehingga semua proses bisa berjalan dengan baik.” Ungkapnya.

Sementara itu, pihak perusahaan PT. Manusela Prima Mining yang ingin dimintai tanggapannya terkait penutupan sadi adat di areal tambang, tidak ingin memberikan keterangan, bahkan terkesan alergi terhadap media.

Untuk diketahui PT. Manusela Prima Mining telah beroperasi berdasarkan izin usaha pertambangan yang di keluarkan oleh mantan bupati SBB 2 periode Jacobus Puttileihalat, dengan SK Bupati Seram Bagian Barat nomor. 545-236.a Tahun 2009. (elo)

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *